renungan kristen tentang fitnah

Renungantentang melakukan firman Tuhan. Mengapa Tidak Dilakukan? Oleh Rubrik Kristen / 24 September 2020 24 September 2020 / RENUNGAN. Mengapa Tidak Dilakukan? "Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu." (Matius 7:24) Bacaan: Matius 7:24-27 5 Di Minggu-minggu Passion ini mari kita merenungkan betapa "Hebat" penderitaan Yesus untuk menanggung dosa kita, Dia rela dicaci maki, di fitnah dan diludahi, di cambuk dan di salibkan, di tombak dan dibunuh. Tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih yang memberikan nyawanya bagi sahabatnya (Yoh. 15:13). 1 1 Petrus 2:1. "Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.". Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah sebenarnya benci pada orang yang bermuka dua atau sering kali juga disebut dengan munafik. Firman Tuhan mengatakan bahwa hal seperti ini harus kita hindari di dalam hidup kita. 20Ayat Alkitab Tentang Menunggu Waktu Tuhan. 29 Juli 2022 oleh Abu Ubaidillah. Ayat Alkitab tentang menunggu. Di kesempatan sebelumnya kita telah membahas mengenai ayat Alkitab tentang kesabaran. Dan kita ketahui bersama bahawa kesabaran berkaitan dengan menunggu atau masa penantian. Adapun hal yang ditunggu bervariasi, mulai Yangpasti adalah bahwa umat beriman harus tetap loyal kepada Tuhan, jangan menjadi lemah dan merasa tertekan, lakukan cara-cara untuk tenang menurut kekristenan. Selalu mengandalkan Tuhan saja, maka Dia akan membebaskan dan memenangkan kita dari fitnah banyak orang. Saat berjalan dalam kebenaran, pasti Tuhan akan memberikan hadiah yang sepadan. Mann Sagt Immer Wieder Treffen Ab. Ilustrasi Doa Terhindar Dari Fitnah Dalam Alkitab, Simak 3 Doa Ini! Foto PexelsDoa Terhindar dari Fitnah dalam AlkitabIlustrasi Kumpulan Doa Terhindari Dari Fitnah dalam Alkitab Foto Pexels10 Kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku. 11 Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah. 12 Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku di jalan lari dari padaku. 13 Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang yang pecah. 14 Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, – ada kegentaran dari segala pihak! – mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku. 15 Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya Tuhan, aku berkata ”Engkaulah Allahku!” 16 Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku! 17 Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu! 18 Tuhan, janganlah membiarkan aku mendapat malu, sebab aku berseru kepada-Mu; biarlah orang-orang fasik mendapat malu dan turun ke dunia orang mati dan bungkam. 19 Biarlah bibir dusta menjadi kelu, yang mencaci maki orang benar dengan kecongkakan dan penghinaan!2 Ya Tuhan, Allahku, pada-Mu aku berlindung; selamatkanlah aku dari semua orang yang mengejar aku dan lepaskanlah aku, 3 supaya jangan mereka seperti singa menerkam aku dan menyeret aku, dengan tidak ada yang melepaskan. 4 Ya Tuhan, Allahku, jika aku berbuat ini jika ada kecurangan di tanganku, 5 jika aku melakukan yang jahat terhadap orang yang hidup damai dengan aku, atau merugikan orang yang melawan aku dengan tidak ada alasannya, 6 maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku, dan menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kemuliaanku ke dalam Doa Terhindar Dari Fitnah Foto Pexels1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. 2 Luputkanlah aku, ya Tuhan, dari pada manusia jahat, jagalah aku terhadap orang yang melakukan kekerasan, 3 yang merancang kejahatan di dalam hati, dan setiap hari menghasut-hasut perang! 4 Mereka menajamkan lidahnya seperti ular, bisa ular senduk ada di bawah bibirnya. 5 Peliharalah aku, ya Tuhan, terhadap tangan orang fasik,jagalah aku terhadap orang yang melakukan kekerasan, yang bermaksud menjatuhkan aku. 6 Orang congkak dengan sembunyi memasang jerat terhadap aku, dan mereka membentangkan tali-tali sebagai jaring, di sepanjang jalan mereka menaruh perangkap terhadap aku. 7 Aku berkata kepada Tuhan ”Allahku Engkau, berilah telinga, ya Tuhan, kepada suara permohonanku!” 8 Ya Allah, Tuhanku, kekuatan keselamatanku, Engkau menudungi kepalaku pada hari pertarungan senjata. 9 Ya Tuhan, jangan penuhi keinginan orang fasik, jangan luluskan tipu rencananya! Sebuah kisah kuno dari Eropa Timur menceritakan tentang seseorang yang mengumbar kabar burung mengenai rabi dikampungnya, kepada siapapun dia bertemu. Pada suatu kali timbul penyesalan yang dalam, lalu diapun pergi memohon pengampunan. Rabi menyuruh dia mengambil sebuah bantal dari bulu angsa, merobek sarungnya lalu menebarkan bulu-bulu itu yang kemudian tertiup angin. Pekerjaan ini dilakukannya dengan mudah. Selanjutnya setelah selesai, dengan penuh pengharapan dia bertanya “Apakah sekarang saya sudah diampuni ? “Hampir,” jawab rabi, “hanya satu hal lagi yang perlu kau lakukan, pergi dan kumpulkan kembali bulu-bulu itu.” “Tidak mungkin.” jawabnya. Tepat,” rabi menyahut, “Sekalipun kau ingin memperbaiki kata-kata yang telah kau sebarkan, tetapi tidak mungkin untuk memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.” Joseph Telushkin, didalam ceramahnya sering berkata; “Kalau saya minta anda untuk tidak minum alkohol dalam waktu 24 jam, dan anda menjawab tidak bisa’, maka anda harus tahu bahwa anda kecanduan . Dan jika saya minta anda untuk tidak merokok seharian, lalu anda berkata tidak mungkin’, ini berarti anda sedang tergantung kepada nikotin. Hal yang sama juga kalau anda tidak sanggup menahan diri untuk tidak berbicara jelek tentang orang lain dalam sehari, maka anda telah kehilangan kontrol terhadap lidah anda. Seorang pengarang tak dikenal dalam buku kuno Orhot Tzaddikim’ The ways of the righteous’ mengatakan bahwa gosip selalu mencari kesalahan, seperti lalat yang mencari tempat jorok. Kalau seseorang ada boroknya, maka lalat akan melupakan seluruh bagian tubuh lain yang sehat, karena punya target langsung mendarat diatas borok. Demikian juga dengan gosip yang berbicara hanya berkisar pada kejelekan orang lain. Kebiasaan untuk berbicara jelek tentang orang lain sering membudaya, kadang-kadang dilingkungan gereja, padahal kemelut ini ada kalanya bisa menjadi penghalang bagi seseorang untuk datang dalam persekutuan. Sebaiknya berbicara kesalahan orang lain hanya untuk menolong melakukan perbaikan, mendoakan atau mencari jalan keluarnya. Dr. Antonio Wood pskiater mengamati bahwa kalau seseorang berbicara jelek mengenai orang lain, maka dia telah menciptakan jarak terhadap orang itu. Semakin negatif kita berbicara, semakin jauhlah kita dari obyek tersebut. Jadi dengan berbicara kejelekan banyak orang, kita akan mengasingkan diri dari banyak teman, dan Dr Wood melihat bahwa pengasingan diri merupakan sebab utama dari depresi yang adalah merupakan salah satu dari kelainan yang sedang berkembang di Amerika. Berbicara dimana saja, disekolah, persekutuan doa, diperkerjaan, atau ditempat lain, dapat memberikan impak, negatif atau positif, membangun atau merusak, sebab itu jauh-jauh hari Alkitab telah berpesan dan mengatur sikap kita dalam berbicara. Matius 1237 menyatakan bahwa menurut ucapan kita dibenarkan dan menurut ucapan pula kita akan dihukum. Pengkhotbah 51-2, mengingatkan agar kita tidak terburu-buru dalam berbicara, sebab Amsal 1727 orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, dan orang yang berpengertian berkepala dingin. Kesadaran ini sering datangnya terlambat, saya sering gagal. Lidah bisa mengutuk atau memuji Aristotle, seorang filsuf mengatakan bahwa kita tidak cukup untuk sekedar tahu apa yang harus dikatakan, tetapi kita harus juga mengerti bagaimana mengutarakannya. Kemudian Tuhan Yesus dalam pesannya kepada murid-murid menjelang perjalanan pengabaran Injil, mengatakan “…janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, …karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu, Dia yang berkata-kata didalam kamu Matius 1019-20. Tentunya kita mengerti bahwa hal ini terjadi karena murid-murid membiarkan kauasa Allah bekerja didalam dirinya. Efesus 429-32 “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun dimana perlu, supaya mereka yang mendengarkannya beroleh kasih karunia. Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah, hendaklah dibuang dari antara kamu, demikan pula dengan segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah didalam Kristus telah mengampuni kamu.” Baca juga 2 Timotius 214-17. Berbicara dengan baik ternyata tidaklah mudah, perkataan perlu dipikirkan sebelum diucapkan, batasan-batasan lain di dalam Alkitab menunjuk kekurangan-kekurangan kita, menyatakan betapa tidak layaknya kita dihadapan Tuhan dan manusia lain, tetapi kita tidak perlu berputus asa, sebab pertolongan Tuhan dan kemauan kita dengan sungguh-sungguh untuk dekat kepadaNya, akan membawa perubahan, menggugurkan pepatah lama yang mengatakan bahwa watak tidak ada obatnya. Kata-kata yang membangun bisa menjadi titik tolak dari kehidupan seseorang, dipakai Tuhan sebagai alat untuk membawa perubahan. Salah seorang pendeta, penulis dari banyak buku, seorang profesor, Sproul, mendapatkan dorongan melalui kata-kata dari gurunya; “ don’t let anyone ever tell you that you can’t write.” Berikut ini adalah kutipan dari Keeping Your Family Together When the World is Falling Apart’ tulisan dari Dr Kevin Leman, penulis dari buku-buku yang membahas masalah keluarga, ini adalah bagian dari kesaksian kehidupannya, yang mengalami titik tolak perubahan melalui kata-kata dari gurunya. Dari seorang bodoh’, akhirnya Kevin menjadi seorang yang sukses dan membantu banyak orang. Lastborn children are special challenge, particularly when it comes to Reality Discipline. The problem is, they are ussually little charmers, so cute that it’s often tempting to let them get away with things their older brothers and sisters could never get away have alot of experience with lastborn children because I am one. I’ve told in others books how I came in third behind a big sister who was an A-plus student and big brother who was B-plus student and big athletic hero as well. I’ll show them! I said to myself, and I proceed to carve my own niche in life by pulling D’s and F’s and being a family clowned my way up all the way to high school, where I finally ran into a no-nonsense math teacher who understood how to handle the lastborn who is trying to get attention in negative ways. Miss Wilson pulled me aside one day during my last semester in high schooll. Looking me squarely in the eye, she asked, “Kevin, when are you going to stop playing your game ?”“What game is that, Teach’ ?” I asked. Believe it or not, I actulally did refer to her as Teach’. It was 1961, and I was trying to be cool’.“The game you play the best.” the math teacher said with a smile. “Being the worst.”I laughed it off, but what she said that day turned me in another direction. She had seen through my facade and knew I was playing self-destructive, attention-getting game.” halaman 211. Disekitar kita banyak teman-teman yang seperti kita, dimana pada suatu kali mungkin mengalami kepahitan, disinilah kita bisa saling membantu, baik melalui kata-kata yang disampaikan secara lisan, maupun kata-kata dalam tulisan lewat surat. Membuat surat memberi peluang kepada kita untuk mempersiapkan apa yang akan dikatakan, dan punya waktu untuk berdoa memohon pertolongan Tuhan. Sebuah surat yang dikirim dari seorang sahabat berbunyi ” ….. suratmu datang pada saat saya berada dalam keadaan bimbang, …. mengalami stres yang berkepanjangan, …..lama saya membalasnya, bukan karena saya lupa, … karena ada sesuatu yang menarik untuk disimak didalam suratmu itu. Sebab setiap kali saya membacanya, maka setiap kali pula saya dikuatkan.” Surat ini bisa menjadi pengingat, agar didalam surat atau berbicara bisa saling menguatkan, sebab terlalu sering kita berbicara tanpa arti, bahkan tanpa sadar bisa merusak. Saya teringat kepada seorang nenek yang berumur lebih dari 80 tahun, kami berjumpa sekitar 3 tahun yang lalu, nenek ini tidak mengecap pendidikan tinggi, bukan seorang filsuf , hidup dalam keserhanaan, tetapi wajahnya bercahaya, tidak menunjukkan kerut-kerut penderitaan dalam kekurangannya’ penuh senyum dan kata-katanya kuat. Dengan bodoh saya bertanya “Bagaimana bisa begitu ? Makan obat apa ?” Tetap tersenyum nenek menjawab “Makan nasi, … hati bersih, … bicara yang baik, … jangan benci orang.” Kata-kata ini bagaikan siraman air sejuk pada musim panas. Pengajarannya sangat sederhana, mudah dimengerti, tetapi agak sulit dipraktekkan. Sayang perjumpaan kami hanya pendek, kalau tidak, tentu saya bisa belajar lebih banyak lagi dari beliau, mendengarkan kata-kata bijak dari orang yang mengalaminya. Kalau teringat nenek, nasi putih tanpa laukpun akan terasa gurih. Sepuluh tahun yang lalu ketika saya mempertanyakan keberadaan Tuhan dalam kehidupan nyata ditengah kekecewaan, ketika saya mempertimbangkan untuk meninggalkan seluruh bentuk pelayanan, Pendeta mengatakan “Just hang on, everything will be alright, God is greater than your problem.” Beberapa tahun yang lalu pendeta lain berkata dalam kaitan dengan sebuah pembicaraan, mengatakan “You tidak fair terhadap keluarga.” Klick’ kata-kata ini memutar switch’ yang paling dalam, membawa kepada pergumulan bersama Tuhan, dan akhirnya walaupun ijin tinggal tetap dinegeri lain sudah kami peroleh, toh tidak dipakai, tetapi Tuhan memberikan jalan lain. Dari orang yang sama, kita, anda, saya, siapa saja, bisa keluar kata-kata pendorong, pembangun, tetapi bisa juga keluar kata-kata yang merusak, menghancurkan, bahkan mematikan. Dengan lidah kita bisa mengutuk manusia, …tetapi dengan lidah yang sama kita bisa memuji 31-12 Yakobus 411 Apakah fitnah itu? 1 Fitnah’ dalam bahasa sehari-hari aMemfitnah berarti menceritakan sesuatu yang jelek tetapi yang tidak benar tentang orang lain, dengan tujuan menjatuhkan orang itu. Ini adalah sesuatu yang sering sekali terjadi, seperti Yang menjadi pertanyaan mengapa sehingga Yakobus harus memberi peringatan supaya jangan memfitnah..??? karena “ FINTAH” adalah sesuatu yang sangat serius, dan tidak dapat kita pandang sebagai suatu hal yang biasa atau bahkan hanya sekedar dosa kecil. Sebab Alkitab sendiri mencatat contoh-contoh orang yang melakukan fitnah dan dampak dari fitnah itusendiri. Contoh yang pertama istri Potifar memfitnah Yusuf Kej 396-20. Ziba memfitnah Mefiboset 2Sam 161-4 2Sam 1924-27. tokoh-tokoh Yahudi memfitnah Yesus Mat 2659-61. orang-orang Yahudi memfitnah Stefanus Kis 613-14.yt b Memfitnah juga bisa terjadi pada saat saudara menceritakan half truth = setengah kebenaran. Memang tidak setiap kali kita menceritakan sesuatu, kita harus menceritakan seluruh kebenaran. Tetapi seringkali, kalau kebenaran tidak diceritakan seluruhnya tetapi hanya sebagian saja, itu bisa merugikan / menjatuhkan nama orang lain. Dalam hal ini, sekalipun hal yang kita ceritakan itu bukan dusta, tetapi kita tetap memfitnah orang yang kita ceritakan itu. Misalnya kalau saudara bertemu dengan saya pada waktu saya pergi ke bioskop dengan istri saya dan seorang wanita lain, dan saudara lalu menceritakan kepada orang-orang lain bahwa saya pergi dengan seorang wanita lain tanpa menceritakan tentang ikut sertanya istri saya, maka itu jelas adalah half truth yang bersifat memfitnah! Karena itu kalau saudara ingin menceritakan sesuatu maka pikirkanlah lebih dulu, apakah dengan membuang bagian-bagian tertentu saudara tidak sedang menjelekkan nama orang lain. c Memfitnah juga bisa terjadi kalau saudara menceritakan seluruh kebenaran, tetapi dengan nada dan mimik wajah yang berbeda dengan keadaan aslinya. Misalnya kalau si A berka­ta kepada saudara si B itu gendeng’. Ia mengatakan hal itu dengan wajah tersenyum, dan tidak betul-betul bermaksud memaki si B. Tetapi saudara lalu menyampaikan hal itu kepada si B dengan berkata Si A berkata kamu itu gen­deng!!’, dengan nada membentak dan wajah yang marah, maka sebetulnya saudara sedang memfitnah si A! Karena itu setiap kali saudara menceritakan tentang apa yang dikatakan oleh orang lain, perhatikanlah apakah nada dan mimik wajah saudara sesuai dengan aslinya! 2 Fitnah’ dalam bahasa Yunaninya Dalam ay 11, kata Yunani yang diterjemahkan memfitnah’ adalah KATALALEITE yang sebetulnya berarti berbicara menjatuhkan orang lain’, atau berbicara menentang orang lain’. Lambat laun ada arti tambahan dalam kata Yunani ini, sehingga artinya menjadi berbicara tentang orang lain di belakang mereka dengan cara menghina / merendahkan’ [Catatan kata Yunani KATALALEITE digunakan dalam Maz 5020 dan Maz 1015 versi Septuaginta / LXX = Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke bahasa Yunani]. 3 Fitnah’ dalam Yak 411-12 Kelihatannya memfitnah’ di sini mempunyai arti yang khusus / berbeda. Ini terlihat dari a Ay 11a memfitnah saudaranya atau menghakiminya’ Jadi, memfitnah diartikan menghakimi. b Ay 11b tindakan itu dianggap sebagai mencela hukum dan menghakiminya’. Kalau memang yang dimaksud adalah memfitnah biasa, bagaimana mungkin tindakan itu dianggap sebagai mencela hukum dan menghakiminya? Yang dimaksud dengan memfitnah di sini adalah mencela orang baik di depan maupun di belakang orang itu karena ia tidak hidup sesuai dengan prinsip hidup kita / pandangan kita, padahal Kitab Suci tidak melarang tindakan orang itu. Kalau kita mencela seseorang karena ia hidup tidak sesuai dengan Kitab Suci, maka itu tentu tidak apa-apa. Tetapi kalau kita mencela orang karena ia tidak hidup sesuai pandangan / prinsip kita yang tidak ada dalam Kitab Suci, maka itu adalah memfitnah yang dimaksudkan oleh Yakobus di sini. Contoh Farisi mengecam murid-murid Yesus karena mereka makan dengan tangan yang tidak dibasuh Mat 151-2. Farisi mengecam murid-murid Yesus karena mereka memetik gandum dan memakannya, pada hari Sabat Mat 121-2. / pendeta tertentu yang mengecam orang yang menonton bioskop / TV, memakai blue jean, kaos bergambar naga, berenang dsb. yang mengecam hamba Tuhan yang tertawa terbahak-bahak, atau yang makan di warung, dsb. yang mengecam laki-laki yang mau menikah dengan perempuan yang lebih tua / lebih tinggi yang mengecam perempuan yang mau menikah dengan laki-laki yang miskin. Perhatikan bahwa kecaman-kecaman di atas ini semuanya tidak punya dasar Kitab Suci. Dasarnya hanyalah tradisi atau selera dari si pengecam belaka! II Mengapa tidak boleh memfitnah? 1 Tindakan itu adalah tindakan yang mencela hukum dan menghakiminya dan itu tidak menjadikan kita sebagai penurut hukum ay 11. Kalau pandangan kita tidak ada dalam Kitab Suci, atau tidak sesuai dengan Kitab Suci, tetapi toh kita pakai sebagai standard dalam mengecam orang lain, maka secara implicit itu berarti bahwa kita beranggapan bahwa Firman Allah / hukum itu salah; anggapan saya yang benar’. Karena itu maka tindakan ini disebut sebagai tindakan yang mencela hukum dan menghakiminya. 2 Hanya ada 1 Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Allah sendiri ay 12. Kalau pandangan kita tidak ada dalam Kitab Suci, tetapi tetap kita pakai sebagai dasar / standard untuk mengecam orang lain, maka itu sama saja dengan kalau kita membuat hukum baru. Dan pada saat kita menggunakan pandangan kita untuk mengecam orang lain, maka kita menjadikan diri kita hakim Padahal Allah adalah satu-satunya Pembuat hukum dan Hakim. Kita tidak berhak membuat hukum maupun menjadi hakim! III Bagaimana supaya tidak memfitnah 1 Kita harus menjunjung tinggi otoritas Firman Allah dalam hidup kita. Ay 11 menunjukkan bahwa kita seharusnya menjadi penurut hukum’. Ini berarti kita tunduk pada hukum / Firman Allah, dan menjunjung tinggi otoritasnya dalam hidup kita! Kalau saudara adalah orang yang menjunjung tinggi otoritas Firman Allah dalam hidup saudara, maka saudara tidak akan memfitnah lagi, karena a Orang yang menjunjung tinggi otoritas Firman Allah, tidak akan menilai orang lain berdasarkan pandangannya sendiri, tetapi akan menilainya berdasarkan Firman Allah. b Orang yang menjunjung tinggi otoritas Firman Allah akan membandingkan pandangan / prinsip hidupnya dengan Firman Allah, dan mengubahnya / menyesuaikannya dengan Firman Allah. 2 Kita harus mengakui otoritas Allah sebagai Pembuat hukum dan Hakim ay 12. Dengan demikian kita tidak akan mencipta hukum sendiri ataupun menghakimi orang lain menurut pandangan kita sendiri. 3 Sadarilah siapa diri saudara ay 12 Kita adalah a Orang yang tidak mempunyai hak untuk membuat hukum dan menghakimi. b Orang yang berdosa, sehingga kita juga adalah terdakwa, bukan hakim. John Wesley berkata “I am a poor, weak, dying worm” = aku adalah cacing yang miskin, lemah dan mau mati. Kalau saudara mempunyai pandangan yang benar dan rendah hati tentang diri saudara sendiri, maka saudara tidak akan memfitnah! 4 Kasihilah sesama saudara. Dalam ay 11 sekalipun Yakobus menegur, tetapi ia tetap menyebut mereka dengan istilah saudara’ yang jelas menun­jukkan kasih. Kalau kita ada kasih, maka kita tidak akan memfitnah / menghakimi! Renungan Harian Kristen hari ini 06 Januari 2020. Bacaan Alkitab 118. Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka,120 di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat. 1 Timotius 118-20 Perintah Paulus adalah sebuah tugas serius kepada pendeta muda Timotius yang telah dipisahkan untuk sebuah tugas khusus. Intonasinya menyatakan betapa seriusnya masalah ini. Diperlukan komitmen total untuk melaksanakan tugas-tugas ini. Inilah yang diutarakan Paulus ketika ia menantang Timotius untuk tetap teguh. Ada tiga hal dalam penugasan ini. Kita perlu berjuang dalam perjuangan yang baik. Komitmen pelayanan Injil adalah sebuah deklarasi peperangan melawan kuasa kegelapan. Rasul Paulus telah mengenal jenis peperangan ini karena dia telah menghadapinya sejak hari pertama dia memberitakan Injil setelah pertobatannya. Penganut-penganut Yudaisme seringkali mengajarkan doktrin-doktrin yang bertentangan dengan yang diajarkan para rasul, dan di manapun ketika Injil diberitakan maka akan ada yang menentangnya. Sangat jelas bahwa mereka tidak akan dengan mudah mempedulikan pengajaran Timotius, tetapi mereka akan menentang, bahkan menganiaya. Pekerjaan pengabaran Injil bukanlah tugas yang mudah pada masa tersebut, juga dalam sepanjang sejarah gereja dan bahkan sampai saat ini. Bukan hanya Timotius yang perlu dikuatkan, tetapi semua orang yang tengah berusaha keras untuk melakukan pekerjaan pengabaran Injil. Akan ada banyak rintangan, tetapi akan ada keberanian dan keyakinan untuk mengatasinya, karena pekerjaan ini harus diselesaikan. Tanda peringatan ini akan selalu ada ketika seseorang masuk ke dalam pekerjaan mulia ini. Adanya agama-agama yang sesat dan pengaruh agama dalam hati manusia seringkali membingungkan karena seseorang tidak dapat membedakan yang sesat dan yang benar. Sebagian orang telah menganggap bahwa semua agama adalah tahyul. Para pemberita Injil Tuhan harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara jelas, dan untuk mendapatkan kepercayaan dari manusia yang telah disesatkan oleh banyak suara. Mereka harus berusaha dan pada saat yang sama bergantung kepada Tuhan untuk memimpin mereka. Ini adalah pengalaman Paulus di Korintus Kis. 189-10. RENUNGKAN Baca 1 Yohanes 44. DOAKAN Berdoa untuk para misonaris, terutama mereka yang engkau kenal. Daud adalah manusia yang sungguh-sungguh transparan tentang berbagai kesalahannya, yang telah berdamai dengan Allah melalui pertobatan dan yang menikmati kedekatan dengan Allah karena anugerah. Ketika Daud melarikan diri dari hadapan anaknya Absalom, dalam perjalanan yang belum jauh berjalan dari Yerusalem. Seorang gila yang masih kerabat Saul yang bernama Simei bin Gera 2 Samuel 16 5-14, ia mendekati Daud dan terus menerus mengutuki sambil melemparinya dengan batu. Dia mengutuk dan menghina Daud dengan mengatakan “Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila! TUHAN telah membalas kepadamu segala darah keluarga Saul, yang engkau gantikan menjadi raja, TUHAN telah menyerahkan kedudukan raja kepada anakmu Absalom. Sesungguhnya, engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah.” Salah satu jenderal Daud menawarkan diri untuk membungkam pembual itu dengan memenggal kepalanya. Tentunya sebagai raja, Daud bisa saja melakukan apa saja, namun justru ia menahan orangnya. Meskipun perkataan Simei itu tidak benar, Daud menerima makian itu sebagai konsekuensi alami dari kegagalannya sebelumnya, ia menyadari bahwa dosanya yang sangat besar memang akan menuai konsekuensi yang panjang dan tak terelakkan. Dari pengamatannya atas apa yang diucapkan oleh Simei itu, umpatan itu bisa dari Tuhan dan bisa juga tidak, maka keputusannya adalah untuk membiarkan Allah mengurus orang itu. 2 Sam. 16 10-12. Apa yang dilakukan oleh Simei itu sebenarnya telah menyerang harga dirinya apalagi dia adalah seorang raja. Namun kerendahan hati Daud berhasil menaklukkan serangan Simei. Sekarang, jika kita berhadapan pada situasi seperti ini, maka apa yang akan kita lakukan? Kita punya dua pilihan utama. Pertama, berhadapan dengannya dan menyerang. Ini adalah tanggapan natural kita ketika kita menerima kritikan yang tidak adil dan yang dilebih-lebihkan. Sebagaimana yang dikatakan oleh David Roper - Kritikan selalu datang ketika kita tidak memerlukannya - Kritikan datang ketika kita tidak layak mendapatkannya - Kritikan datang dari orang yang tidak berkompeten menyampaikannya - Kritikan sering kali datang yang sama sekali tidak membantu kita Tetapi, kemungkinan respon yang kedua untuk menghadapi kritikan yang tidak adil adalah dengan mengumpulkan kebenaran. Kritikan itu kemungkinan tidak semuanya salah dan tidak semuanya benar. Tetapi alangkah bijaksananya jika kita menyaring kritikan yang mungkin benar dan menggunakannya sebagai sebuah kesempatan untuk memusatkan perhatian pada kesalahan kita. Kerendahan hati akan memilih respon yang lembut atas kritik rendahan yang penuh permusuhan. Kerendahan hati tahan dalam penderitaan, anggun, baik, bahkan lembut saat menghadapi olok-olok. Kerendahan hati membalas kejahatan dengan kebaikan, sebuah jawaban yang lembut dalam menanggapi amarah, memberikan berkat atas kutukan, menaruh belas kasihan atas kekejaman. Daud menolak membela diri melawan berbagai serangan terhadap harga dirinya. Dia keluar dari lingkaran main hakim sendiri, tetapi dia menyerahkannya ke dalam tangan Tuhan. Sebagamana Daud berdoa dalam Mazmur 109. Apa yang terjadi di dalam dirinya ketika menerima kritikan dan fitnah semuanya diutarakan dan disampaikannya kepada Tuhan. Ia tidak menahan atau berpura-pura bahwa kemarahannya tidak pernah ada; tetapi ia menyatakan semuanya dalam konteks yang sesuai. Dengan sikap rendah hati menanggapi setiap kritikan dan fitnah, maka kita sedang menyadari bahwa Allah memegang kendali atas segala macam situasi. Dengan berpegang pada kerendahan hati kita tidak pernah mencari-cari pemulihan nama baik, tetapi memilih Tuhan untuk membela dan membenarkan kita, kita lebih mengutamakan nama baik Tuhan daripada diri sendiri. Sumber Charles R. Swindoll “A life well lived”

renungan kristen tentang fitnah